Proses transfer ilmu di sekolah antara guru dan murid cenderung membosankan. Banyak guru yang hanya melakukan proses tersebut hanya sebagai tugas dan menggugurkan kewajibannya saja. Berangkat, mengajar, lalu pulang, demikian terus menerus selama berpuluh-puluh tahun.

Paradigma mengajar seperti itu mencoba di bongkar oleh Yoga Bagus Wicaksana S FarmApt. Guru Jurusan Farmasi di SMK HKTI Purwareja Klampok Banjarnegara ini enggan disebut guru biasa-biasa saja. Ia bertekad memberikan sesuatu yang lebih dalam model pengajarannya.

Ia memilih sulap dan teknik stand up comedy dalam proses belajar mengajar di sekolahnya. Lulusan Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini sejak 2015 berjanji membuat proses belajar menyenangkan.

“Siswa Farmasi memiliki kecenderungan tingkat stress yang tinggi. Jadi, harus ada terobosan, maka saya memilih memberikan penyegaran dengan teknik-teknik sulap, yang saya hubungkan dengan materi pelajaran,” katanya di sekolah, Rabu (19/9/2018).

Yoga menyebutkan, pemilihan metode sulap dan stand up sebagai media mengajar dikarenakan akhir-akhir ini dunia sulap dan stand up banyak digandrungi remaja di Indonesia khususnya para pelajar, dengan metode ini saya dapat lebih mendekatkan diri pada mereka, sehingga antusiasme belajar mereka dapat meningkat khususnya pada mata pelajaran yang diampu.

“Ketika mengajar dengan metode ini saya merasa seperti memasuki dimensi kebahagiaan saya, saya bahagia seperti sedang berada di atas panggung pertunjukan,” ujar alumnus teater Perisai Universitas Muhammadiyah Purwokerto ini.

Menyoal antusiasme siswa, ia mengklaim, bahwa dirinya sudah bisa menggeser pandangan siswa dimana umumnya guru Jurusan Farmasi adalah saklek dan killer. Tak berlebihan jika dirinya, menjadi salah satu guru favorit bagi anak didiknya. “Dengan metode ini saya merasa seolah menjadi guru yang dicintai muridnya, sebab selama ini guru Farmasi selalu dianggap killer dan saklek,” sebut pria berusia 26 tahun ini.

Yoga menambahkan, jika metode sulap ini tidak setiap hari dilakukannya. Ia mencari celah, yaitu saat saat anak didiknya mulai merasa jenuh. Dan tak perlu menggunakan kostum yang aneh aneh.

“Kalau sulap bisa satu minggu sekali, bisa dua minggu sekali, tergantung mood anak-anak. Kalau stand up, hampir di setiap saya mengajar,” sebut Yoga yang juga siap menerima job sulap dan lawak diluar jam sekolah ini.

Zaidatun Rohmah, salah satu murid Jurusan Farmasi mengaku senang dengan metode yang dilakukan gurunya tersebut. Ia mengaku lebih mudah dalam menangkap pelajaran yang diterimanya.

“Setiap jadwal mengajar, kami menunggunya. kita tidak bosan, lucu, sehingga mudah dimengerti pelajarannya,” kata Zaidatun.

Sepertinya gayung bersambut, Kepala SMK HKTI Purwareja Klampok Nanang Kosim mengaku mendukung sepenuhnya metode yang dilakukan salah satu tenaga pengajarnya itu.

“Selama baik dan positif kami sangat mendukungnya. Kami juga melihat anak-anak semakin fokus, pembelajaran tidak monoton dan membosankan,” terangnya.

Persoalan peralatan sulap, ia memang mengaggarkan dana khusus, dengan cara dana tersebut di masukkan kepada ekstrakulikuler teater.

“Jadi Pak Yoga kreatif, peralatan sulap dan lainnya merupakan properti ekstrakulikuler teater. Dia memanfaatkan hal tersebut. Jadi membina teater sekaligus memberikan pembelajaran yang menarik,” tandas Nanang.